Thursday, June 13, 2013

Arti Persaudaraan dalam Islam dan PSHT



Membangun karakter atau yang lebih populer dengan istilah Character Building, merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi kita. Istilah character building biasanya banyak dijual di kursus-kursus kepribadian, bengkel-bengkel hati dan atau jiwa, khutbah-khutbah atau penyuluhan spiritual, bahkan sering didiseminasikan dalam seminar-seminar pengembangan diri, baik secara praksis-implementatif maupun teoritis-paradikmatik.
Lalu, muncul pertanyaan-pertanyaan kritis: Membangun karakter, Apa sich? Atau dalam dialek Jawa Timuran: Yo opo seh, character building iku? Dan sebagainya.
Sebagaimana yang telah kita pahami bersama, pengertian karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, seperti tabiat, watak, akhlak, atau budi pekerti yang merupakan distingsi (pembeda) antara seseorang dengan yang lainnya. Sedangkan pengertian membangun adalah proses pengolahan dan pembentukan suatu unsur atau materi yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru dan berbeda. Dari kedua pengertian tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa membangun karakter adalah suatu proses pembentukan watak atau budi pekerti. Tentunya dalam pengertian yang positif, tujuan dari pembentukan watak atau budi pekerti di sini adalah menjadi lebih baik dan terpuji dalam kapasitasnya sebagai pribadi yang mempunyai akal budi dan jiwa.
Dalam perspektif yang lebih luas, membangun karakter bisa kita korelasikan dengan keberadaan kita sebagai keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang mempunyai tujuan utama membentuk manusia yang berbudi luhur, bisa membedakan antara yang benar (haq) dan salah (batil). Membangun karakter adalah sebuah ikhtiar dan harapan kita bersama untuk meningkatkan kualitas individu (kesalehan individu) dan kesalehan sosial sekaligus. Secara empiris, kesalehan individu dan kesalehan sosial sudah semestinya secara given terejawantah dalam perilaku sehari-hari,
baik secara individual behavior maupun social behavior. Ketika seorang Warga mencapai derajat saleh secara individu dan sosial, maka inilah sejatinya konsep besar tentang capaian tertinggi “berbudi luhur” atau yang sering penulis sebut dimillist ifg dengan akhlaqul karimah, insan kamil atau derajat kesempurnaan dalam bertingkah laku (fi’liyah), bertutur kata (qauliyah), kewibawaan dan bijaksana (taqririyah). Hal ini ditegaskan oleh Nabi SAW dalam haditsnya: Innama bu’itstu li utammima makaarimal akhlaq (Sesungguhnya Aku (Muhammad) diutus  untuk menyempurnakan akhlak yang mulia).

Karakter Warga yang Berbudi Luhur

Argumentasi tak terbantahkan yang dikonsep dan dirumuskan oleh para founding fathers (leluhur) Setia Hati Terate menemukan relevansinya dengan nilai-nilai Islam yaitu sama-sama menegaskan tujuan membentuk manusia yang berakhlaqul karimah atau berbudi luhur yang secara otomatis jelas bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Sebagaimana firman Allah SWT:
Yu’minuuna billahi wal yaumil akhiri wa ya’muruuna bil ma’rufi wa yanhauna ‘anil munkari wa yusaari’una fil khairaati wa ulaaika minashshalihin”
Artinya: Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan kebenaran dan mencegah perbuatan munkar dan menyegerakan untuk berbuat kebaikan, mereka itulah orang-orang yang saleh (Q.S Ali Imran: 114)
Ini artinya bahwa semakin seseorang itu setia pada hatinya maka seseorang tersebut akan semakin taat dan patuh pada keimanan masing-masing agamanya. Melalui ajaran “setia hati” itulah diharapkan lahirnya bibit-bibit/generasi unggul yang mempunyai karakter kuat, cerdas, tangguh dan kredibel. Tentu untuk mendapatkan bibit unggul dan generasi yang cerdas membutuhkan “bayaran yang mahal”. Bayaran tersebut adalah kerja keras, sungguh-sungguh, konsisten dan yang terpenting adalah keteladanan. PSHT membutuhkan sosok panutan yang benar-benar istiqamah dan berkepribadian yang saleh secara individu maupun sosial. Konsistensi dan keteladanan disini artinya bahwa ketika seorang warga mengajak/mengamalkan ajaran berbudi luhur, tahu benar dan salah (amar ma’ruf nahi munkar), maka sebelum mengajak, warga tersebut harus sudah membenahi dirinya sendiri, emosi dan nafsunya sehingga dia berbudi luhur. Sesuai Firman Allah SWT:
“Yaa ayyuhalladzina ‘amanu lima taquuluuna ma la taf’aluun. Kabura maqtan ‘indallahi an taquuluu ma la taf’aluun”
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan/perbuat. Amat besar (menjadi kebohongan besar) kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Q.S Ash Shaf: 2-3).   
Pertanyaan kritisnya sekarang adalah apakah secara de facto, realitas empiris di lapangan, warga-warga kita sudah seperti tersebut di atas? Mari kita semua bermuhasabah dan instrospeksi diri. Kalau ternyata sudah, maka syukur Alhamdulillah, tapi kalau itu belum, maka hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar, baik bagi individu masing-masing warga maupun organisasi.  
Dalam perspektif sejarah perkembangan peradaban Islam (Islamic civilization), mencetak generasi unggul yang mempunyai karakter kuat telah menjadi misi profetis (kenabian) Muhammad SAW ketika melakukan revolusi Mekkah dengan agenda reformasi total dari akhlak jahiliyah (keterbelakangan) menuju era pencerahan spiritual (spiritual enlightment). Dalam konteks kekinian, misi profetis Muhammad SAW tersebut terdapat benang merah dengan yang telah dimulai oleh PSHT pada awal abad 20 setelah sebelumnya diinisiasi oleh sosok yang akrab disebut Ki Ageng Soerodiwirjo tepatnya pada tahun 1903 dengan melakukan pencerahan kepada masyarakat melalui ajaran “keselamatan” Sedulur Tunggal Kecer (STK).
Pencerahan tersebut dilakukan dengan merumuskan tujuan besar didirikannya sebuah organisasi dengan sarana/media pencak silat yakni untuk membentuk manusia yang luhur budinya. Kemudian atas persetujuan Ki Ageng Soerodiwirjo, murid beliau, yang bernama Ki Hadjar Hardjo Oetomo beserta murid-murid lainnya memunculkan kata “Persaudaraan” di depan kata “Setia Hati” tepatnya pada 1917. Dan pada tahun 1922 Ki Hadjar kembali menegaskan pentingnya arti “Persaudaraan” dalam mengembangkan organisasi tersebut dengan mendirikan PSHT. Terlepas dari kontroversi soal sejarah dan pro kontra metode penulisannya, misi persaudaraan tersebut compatible dengan Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihain yang artinya: “Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mengasihi saudaranya seperti mengasihi dirinya sendiri”
Ditegaskan juga dalam Al Qur’an:
“Innamal mu’minuuna ikhwatun fa aslihuu baina akhawaikum wattaqullaaha la’allakum turhamuun”
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara, oleh karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan rahmat. (Q.S Al Hujuraat: 10).       
Lalu diperkuat Firman Allah SWT:
“Wa’tashimuu bi habblillahi jami’an wa la tafarraquu wadzkuru ni’matallahi ‘alaikum idzkuntum a’daan fa allafa baina kuluubikum fa asbahtum bi ni’matihi ikhwanan. Wa kuntum ‘ala syafaahufratin minannari fa anqadzakum minha, kadzalika yubayyinullahulakum aayaatihi la’allakum tahtaduun”
Artinya: Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) saling bermusuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara: kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk (Q.S Ali Imran: 103).

Character Building dan Kecerdasan Emosi

Sebagai organisasi masyarakat, suka atau tidak suka, PSHT harus terus berbenah diri untuk mengikuti kodrat irama jamannya. Era modernism dan globalisasi menuntut PSHT---yang notabene sebagai salah satu pilar penting civil society di Indonesia---untuk siap berkontestasi di tengah-tengah masyarakat mondial (dunia). PSHT harus mengaktualisasikan dirinya dengan berkontribusi bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat. Agar mampu berperan secara optimal, PSHT harus membekali kapasitas para anggota (warganya). Bagaimana strategi  dan langkah-langkah pembangunan kapasitas dan karakter warga dilakukan? Banyak cara yang harus dilakukan untuk membangun kapasitas dan karakter warga PSHT.  Salah satu diantaranya adalah media pendidikan formal maupun informal. Bagaimana Warga didorong untuk terus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga kuat tradisi intelektualismenya dan ahli dalam riset serta teknologi. Pendidikan formal merupakan salah satu instrumen signifikan dalam membangun karakter. Sebab dengan pendidikan formal secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengembangan kepribadian dan skill individu seseorang warga. Dengan pendidikan formal juga akan mengasah pola pikir (mindset) warga dalam mengolah kecerdasan emosi dan empatinya terhadap lingkungan sekitar dimana dia tinggal.
Penulis jadi teringat dengan apa yang pernah disampaikan Mas Sakti Tamat dalam sarasehan di tempat mas Liliek/HHM pada 27 Maret 2010 lalu, bahwa seorang warga PSHT adalah sosok yang berkarakter bijak, jujur, sabar, ikhlas dan amanah. Masyarakat dimana dia (warga) tersebut tinggal merasa gembira, nyaman, aman dan terlindungi. Dengan kata lain seorang warga PSHT adalah sosok yang “khairunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang hidupnya bermanfaat untuk orang lain). Untuk membentuk karakter seperti itu perlu juga pendidikan informal dan aktualisasi diri. Pendidikan informal secara eksternal bisa diperoleh dalam pelatihan-pelatihan kepemimpinan, pendidikan pesantren, seminari, kefrateran, training ESQ dan kegiatan-kegiatan spiritual lainnya. Sedang untuk media aktualisasi diri, warga PSHT bisa terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, seperti RT/RW, ormas, LSM, forum-forum keagamaan (pengajian), lembaga-lembaga keagamaan, persekutuan  gereja dan sebagainya.
Sedangkan secara internal, pendidikan informal ini bisa diperoleh melalui sistem atau tahapan-tahapan latihan siswa maupun warga. Di sinilah pentingnya diproduksi kurikulum latihan yang sistemik-komprehensif atau semacam modul yang mengacu pada 5 (lima) prinsip dasar pendidikan Setia Hati yaitu Persaudaraan, Olahraga, Kesenian, Beladiri dan Ke SH an. Masing-masing dibagi porsinya disesuaikan dengan kebutuhan.  
Terlepas dari semua cara/media pembangunan karakter seperti dijelaskan di atas, yang tak kalah pentingnya adalah satu hal yakni keinginan untuk berubah menjadi lebih baik. Ini harus menjadi keinginan kuat warga PSHT sebagai bentuk moral choice (keputusan moral) yang harus diambil. Pendidikan formal, pendidikan informal, pelatihan/training, penataran, sarasehan, aktualisasi diri di masyarakat hanyalah media atau instrumen semata. Semuanya tidak akan berarti apa-apa alias tanpa makna apabila di dalam diri individu warga PSHT tersebut tidak ada keinginan kuat untuk berubah menjadi lebih baik. Allah SWT berfirman:
“Innallaha la yughayyiru ma bi qaumin hatta yughayyiruu ma bi anfusihim”
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, sehingga mereka sendiri yang merubahnya. (Q.S Ar Ra’d: 11).
Tuhan tidak akan merubah keadaan seseorang, selama seseorang tersebut tidak mau belajar dari sebab-sebab kesalahan dan kemunduran (keterbelakangan) mereka itu sendiri, baik sekarang maupun di masa lampau. Inilah pentingnya seorang warga memiliki karakter dan kecerdasan emosi. Bagaimana dia mengolah emosinya untuk mengambil keputusan, menentukan pilihan dan skala prioritas dalam hidupnya, memotivasi diri, membangun relasi/jaringan (networking) dan mengenali emosi diri sekaligus orang lain. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau sering akrab di sebut EQ sebagai “himpunan bagian dari kecerdasan social yang melibatkan kemampuan memantau perasaan social yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah dan menggunakan informasi untuk membimbing pikiran dan tindakan. Sedang menurut Daniel Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan social skill. Goleman menambahkan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari relasi social yang baik. Bahkan tegas Goleman, bahwa kecerdasan emosi itu jauh lebih berperan ketimbang IQ itu sendiri.
Dalam Islam diajarkan bahwa seseorang dalam kondisi bebas (memilih) untuk merubah karakternya. Bagi yang memiliki akhlak yang baik, mungkin saja karena atas perintah hawa nafsunya akan terjerumus ke dalam kenistaan (kebatilan). Sedang bagi yang memiliki akhlak yang kurang bagus, karena melalui penerangan dan bimbingan para ahli ma’rifat dengan berbagai instrospeksi diri (muhasabah) dapat mencapai puncak kesempurnaan (luhur budinya).

Catatan Penutup

Dalam konteks berbagai hal di atas, PSHT sebagai salah satu organisasi kemasyarakatan, dengan demikian juga bisa berperan sebagai organisasi moral berbasis ajaran teologis (ketauhidan) yaitu ilmu yakin untuk mempertebal keimanan transendental kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau penulis boleh menyebut PSHT merupakan organisasi/lembaga dakwah. Oleh karenanya, mutlak meniscayakan peran para Warga (anggotanya) untuk menjadi juru dakwah di tengah-tengah masyarakat sampai terwujudnya masyarakat yang berbudi luhur yang bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Kita harus segera menyudahi friksi dan memutus mata rantai konflik internal yang tidak produktif termasuk diantaranya kontroversi mengenai ilmu-ngelmu, ajaran, falsafah dan sebagainya.
Dalam konteks politik kebangsaan yang lebih luas, warga PSHT sangat ditunggu kontribusinya bagi kemajuan bangsa dan Negara. Bagaimana warga PSHT memberikan jawaban atas problem-probem kebangsaan universal, seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan korupsi  alias keserakahan. Bagaimana berbagai ketimpangan sosial di atas dicarikan solusinya. Untuk menjawab semua hal tersebut sudah menjadi keniscayaan kalau warga PSHT mutlak mempunyai karakter yang kuat. Dan ajaran “setia hati” mestinya bisa menjawab itu semua jika benar-benar dijadikan nilai-nilai dan prinsip dasar bagi kehidupan warganya. Masyarakat luas butuh bukti bukan janji-janji dan teori-teori yang utopis (melangit). Mari kita sama-sama berkompetisi membumikan “Memayu Hayuning Bawana”. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

Tinggalin kommentar ya :D

Post a Comment